Selasa, 02 September 2008

TINGKATAN-TINGKATAN HAMBA ALLAH

TINGKATAN HAMBA ALLOH SWT

Setiap manusia yang beriman kepada Alloh SWT pasti menginginkan disebut sebagai hamba Alloh yang mengabdikan dirinya kepada Alloh dengan cara beribadah kepadaNya, yakni melaksanakan perintahNya dan menjauhi apa yang dilarangNya.

Tingkatan seorang hamba dihadapan Alloh menurut tinjauan ilmu Tashowuf ada lima tingkatan yaitu:

1.

Ghofil (Ghofilin), yaitu orang yang beribadah kepada Alloh sambil ghoflah hatinya tidak ingat kepada Alloh, hatinya tidak ikut beribadah, tidak merasa dilihat oleh Alloh, melainkan asik mengikuti perasaan yang ada. Sementara anggota badannya menghadap dalam pengabdian kepada Alloh, sedangkan hatinya mengembara ke segala arah, ingat itu, ingat ini, misalnya tubuh bersujud sementara hati berada di kantor atau di pasar sedang melayani pelanggan.

2.

Murid (Muridin), Yaitu seorang hamba yang sedang meniti jalan kepada Alloh (Amaliyah), baik berupa ibadah mahdloh maupun ghoir mahdloh, yakni beribadah dengan cara meniti perintah Alloh dan menghindari segala apa yang dilarang oleh Alloh dengan harapan mendapatkan keridloan dari Alloh SWT, singkatnya, adalah hamba yang senantiasa mengusahakan dirinya selalu berada dalam hal fardlu atau sunnah paling tidak ada dalam mubah, tidak melihat bentuk pekerjaan baik itu Pedagang, Petani, Guru atau Pemimpin dan lain sebagainya. Semua bentuk pekerjaan itu dikaitkan kepada mardlotillah, kalaulah selesai mengerjakan pekerjaan itu juga di kembalikan kepada Alloh.

"Maka ketika telah selesai dari suatu pekerjaan, maka kembalilah kepada Alloh, dan hanyalah kepada tuhanmu kamu mengharap." (QS:Al-Insyiroh : 6-7)

Orang yang telah menginjak level/tingkatan Muridin, menurut kitab Sulam Taufiq sudah dikatakan waliyullah, sebab yang dinamakan wali adalah :

"Orang yang terus-menerus Taat", yang tidak pernah putus beribadah kepada Alloh, baik ibadah mahdloh atau goir mahdloh.

Orang yang sudah berada dalam tingkatan Muridin pasti akan dibukakan jalan oleh Alloh, yaitu jalan untuk menuju kebahagian dunia dan akhirat, sebagaimana janji Alloh dalam dalam surat Al-Ankabut : 69.

"Dan adapun orang-orang yang berjihad dijalan kami, maka kami akan menunjukan kepadanya jalan-jalan kami , dan sesungguhnya Alloh beserta orang-orang yang baik."

3.

Salik (Salikin), yaitu orang yang sedang beribadah kepada Alloh, baik ibadah mahdloh atau ghoir mahdloh, tak ada bedanya seperti muridin, hanya saja salikin ini mengharap diberi kema'rifatan, ingin bisa ma'rifat kepada Alloh, ya'ni orang yang sedang berjalan/berusaha menuju kema'rifatan kepada Alloh dengan jalan Taqorrub, yaitu melaksanakan perintah Alloh dan menjauhi larangan Nya. Pendek kata, ibadahnya orang Salikin ingin mendapatkan kema'rifatan, oleh karena itu ia selalu sibuk dan berusaha utuk mendapatkan kema'rifatan, dengan cara bayak berdzikir, baik :

· · Dzikir lisan saja.

· · Dzikir lisan dengan hatinya.

· · Dzikir hatinya saja.

· · Dzikir jiwanya.

· · Dzikir hati sanubarinya.

Tetapi seseorang tidak bisa mencapai maqom salikin kalau belum benar dalam Muridin, sebab bisa tercapai maqom salikin kalau sudah sempurna syariatnya dan siap ilmunya, lalu ia mengusahakan dirinya mencapai kema'rifatan. Kalaupun seseorang bersikeras ingin mendapatkan kema'rifatan tanpa menyiapkan ilmunya walaupun syariatnya dilaksanakan dengan sempurna, maka ia tidak akan mencapai kema'rifatan dan tak akan diberikan.

4.

Washil (Washilin), yaitu : orang yang sudah sampai ke tingkatan Ma'rifat, baik dengan menggunakan jalan syari'at menuju kema'rifatan seperti halnya Muridin, atau tidak, seperti mendapatkan kema'rifatan melalui Tanazzul (langsung diberi kema'rifatan tanpa mengusahakan). Oleh karena sinar kema'rifatan yang sudah di miliki dengan sempurna, maka hatinya bulat bahwa beribadah hanya karena Alloh, tak ada maksud dan tujuan selain mendapat Mardlotillah.

5.

Arif (Arifin), yaitu : orang yang sudah ma'rifat dan lupa akan syari'at, atau dengan kata lain sudah Mahjub.

Adapun perbedaan 'Arif dan Washil yaitu : Wasil walaupun ia telah mencapai kema'rifatan tapi ia tidak menghilangkan syari'at, dirinya masih tetap menjalankan syari'at. Adapun 'Arif mencapai maqom ma'rifat tapi lupa akan syari'at, saking tingginya sinar kema'rifatan hingga ia tak bisa melihat makhluq, yang tercipta dan terbayang hanyalah Kholiq, adapun makhluq tidak terperhatikan, perasaannya di dunia ini tidak ada siapa-siapa kecuali dirinya dan Alloh.

Orang yang seperti ini disebut wali majdub, yang prilakunya bukan untuk ditiru oleh manusia biasa, ucapannya bukan untuk diikuti, sabab sudah tidak terkendalikan okeh hukum, tapi bukan berati salah tapi sudah berbeda maqom dan kedudukannya, kalaulah diberi langsung oleh Alloh menjadi Majdub itu baik, tapi kalau mengusahakan diri itu haram.

Tidak ada komentar: